Peran Pangan Fungsional Buat Menaikkan Universitas Surabaya (ubaya)

Oleh: Yayon Pamula Mukti, STP, M.Eng

Dosen Program Kekhususan Bionutrisi & Inovasi Pangan Fakultas Teknobiologi, Universitas Surabaya.

DUNIA tengah menghadapi perseteruan berfokus dengan munculnya Covid-19, penyakit yg disebabkan sang novel coronavirus dan ketika ini menjadi pandemik global. Pasien pertama terdeteksi pada Desember 2019 mempunyai tanda-tanda pneumonia menggunakan penyebab nir jelas, yg pada kemudian hari diketahui asal berdasarkan virus SARS-CoV-2.

Perkembangan Covid-19 tidak bisa dianggap remeh. Data menurut Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menyatakan sampai dengan lima Mei 2020, lebih menurut 12.000 penduduk Indonesia terpapar virus ini. Kondisi yang demikian menyebabkan sebagian besarorang mengalami panic buying keperluan sehari- hari, indera pelindung diri (APD), bahkan suplemen vitamin C hilang menurut peredaran. Menipisnya stok suplemen vitamin C pada pasaran dilaporkan terjadi dalam beberapa negara, di antaranya Singapura, China, Filipina & Indonesia. Bahkan terjadi peningkatan penjualan vitamin C hingga dengan 140% di Amerika Serikat.

Tren ini diperkirakan ditimbulkan oleh agama masyarakat bahwa vitamin “sakti” C dapat mencegah penularan Covid-19, yang diperkuat oleh pendapat peraih Nobel Kimia, Linus Pauling, di mana vitamin C mempunyai kemampuan melawan penyakit dan disebut dapat mengatasi epidemic flu babi (Swine flu). Lantaran itu vitamin C dianggap jua dapat mencegah dan mengatasi COVID-19.

Hal tersebut nir sepenuhnya seksama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada pasien Covid-19 di China & Amerika, hadiah vitamin C (l-ascorbate) takaran tinggi secara subkutan (IV) dianggap aman & dapat meringankan masa perawatan intensif lantaran pneumonia sampai dengan 8,6%, serta memperpendek penggunaan ventilator sampai dengan 25%.

Akan namun belum ada penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi vitamin C bisa mencegah penularan Covid-19. Suplemen, baik berupa vitamin juga nutrisi lain, adalah makanan tambahan yg diberikan jika kuliner kita konsumsi kurang memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Vitamin C adalah keliru satu nutrisi pada bahan pangan yang tak jarang dianggap dengan pangan fungsional.

Peran Senyawa Bioaktif Pangan pada Melawan Covid-19

Berdasarkan fungsi pangan, pangan fungsional meliputi fungsi pangan ketiga, yaitu menaruh manfaat tambahan misalnya peningkatan sistem imun dan regulator metabolisme, pada samping fungsi gizi dasar dan organoleptik. Konsumsi bahan pangan fungsional bisa mempertinggi sistem imun untuk melawan infeksi berbagai bakteri, virus & fungi. Senyawa aktif dalam pangan fungsional jua diyakini bisa menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, & beberapa jenis kanker.

Selain vitamin C, vitamin A yang banyak terkandung dalam wortel, brokoli, bayam, ikan salmon mempunyai senyawa aktif larut lemak seperti beta-karoten, retinol, asam retinoat yang berfungsi esensial pada sistem imun, di mana vitamin A memiliki sifat anti-inflamasi, dan berperan mengatur respon imunitas sel & imunitas humoral (contoh: antibodi).

Penelitian yang dilakukan sang Sinha, dkk dalam Maret 2020 sudah membuktikan bahwa isotretionin (turunan berdasarkan vitamin A) dapat memediasi penurunan ekspresi (down regulator) berdasarkan angiotensin-converting enzyme dua (ACE2), yang adalah enzim yg berperan krusial dalam penempelan SARS-CoV-2 ke pada tubuh.

Konsumsi kuliner yg kaya akan vitamin D dan E pula diprediksi bisa meningkatkan kinerja sistem imun melawan Covid-19. Hal ini didasarkandalam penelitian mengenai meningkatnya risiko infeksi bovine coronavirus dalam hewan ternak terhadap penurunan kandungan vitamin D dan E.

Tidak hanya komponen bioaktif berupa vitamin, senyawa bioaktif lemak misalnya asam lemak tidak jenuh & asam lemak arakidonat esensial yang bisa ditemukan dalam kacang-kacangan, daging dan telur pula berperan dalam meningkatkan resistensi dan pemulihan berdasarkan infeksi SARS-CoV-dua, SARS dan MERS. Publikasi Yang, Y, dkk menyebutkan bahwa beberapa jenis senyawa flavonoid misalnya quercetin dan kaempferol yang poly terkandung pada bawang merah, kale, brokoli & bayam bisa menghambat aktivitas enzimatik dari SARS 3-chymotrypsin-like protease (3CLpro).

Enzim ini berperan penting pada replikasi virus SARS, sebagai akibatnya senyawa ini berpotensi pada melawan penyakit Covid-19. Polifenol lain yg sedang diteliti karena potensinya sebagai penghambat protease primer (Mpro) Covid-19 merupakan hesperidin dan rutin. Komponen bioaktif ini banyak ditemukan pada butir jeruk dan lemon.

Pengolahan & Konsumsi Pangan Fungsional yang Benar

Sampai saat tulisan ini dibentuk, 5 Mei 2020, kiprah komponen bioaktif dalam pangan fungsional masih terus dikembangkan buat mencegah & mengobati Covid-19. Akan tetapi, manfaat menurut pangan fungsional dalam upaya mempertinggi sistem imun tubuh sudah banyak terbukti, sebagai akibatnya konsumsi pangan fungsional yang cukup sangat dianjurkan. Pengolahan bahan pangan yang benar dengan meminimalisasi pengolahan panas akan mengurangi potensi kerusakan komponen bioaktif.

Sebagai contoh merupakan Flavonoid. Flavonoid adalah galat satu komponen polifenol yg sensitif terhadap panas yang biasa beredar pada sayuran & butir–buahan. Konsumsi bahan pangan pada bentuk mentah atau pengolahan sederhana lebih dianjurkan, menggunakan tentunya memperhatikan kebersihan dan higienitas dari bahan pangan tadi.

Beberapa jenis pengolahan pangan memiliki sifat yang dapat meningkatkan kandungan bioaktif, menjadi model fermentasi kedelai menjadi tempe dapat menaikkan komponen bioaktif aglycone (senyawa isoflavon) mencapai 100% pada fermentasi selama 24 jam. Dengan demikian, pemilihan bahan pangan fungsional yang tepat dikombinasikan menggunakan pengolahan yg benar adalah faktor yg krusial buat menaikkan kualitas senyawa bioaktif dalam bahan pangan tadi.

Saat ini, peningkatan sistem imun adalah salahsatu prioritas primer bagi konsumen pada seluruh global. Menurut data dari Nutraceuticalsworld, 2019, 20% konsumen membeli produk kesehatan lantaran perhatian mereka terhadap peningkatan sistem imun tubuh.

Terlebih dalam era pandemik saat ini, wargaakan lebih menaikkan kepedulian dan konsumsi terhadap produk-produk yang memiliki fungsi peningkatan sistem kekebalan tubuh, termasuk produk pangan fungsional yang mengandung bioaktif alami yang notabene lebih ramah terhadap tubuh dibandingkan menggunakan produk sintetik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *